welcome into the fleworld

Category Archives: Events

Kedadeyan ing dina Minggu awan, 4 Februari 2012 kurang luwihe jam 12.30, ngepasi bakdal Dzuhur kuwi pancen marakake mbediding. Wektu kuwi aku karo adhiku lagi nonton TV ing jero omah. Kanthi tanpa pratanda ujug-ujug ana suwara rame banget kaya seng di kipat-kipatake lan ditabrak-tabrakake. Amarga kebrebegen, aku dadi penasaran karo suwara kuwi.

Dak mat-matke suwarane kaya tambah cedak. Banjur aku lan adhiku metu omah. Rikala semana jebul tangga sebelah uga metu amarga penasaran suara apa sing mbrebegi kuping.

Nanging apa sing tak deleng rikala kuwi pancen ora umum. Ono bentuk koyo corong gedhe banget, isine seng sekitar telung ler, pemean, lan barang-barang cilik akeh banget, mubeng-mubeng kayata kumbahan sing diputer ing jero mesin cuci. Aku nate nonton angin sing kaya kuwi amung ing layar TV. Blais tenan yen nganti daerah omahku kesawut ‘penthil muter’. 😥

Aku, adhiku, lan tanggaku mung ngadeg ngeweh nonton kedadeyan kuwi. Rikala semana aku ngadeg karo ngewel. Wedi tenan yen angin kuwi ngliwati omahku. Awakku adem panas golek cekelan, amarga angine ngarah maring daerahku. Nanging kasunyatane ora. Angin mau menggok menyang arah terminal banjur ngilang. Atiku tetep deg-degan amarga wedi yen ana kedadeyan kaya kuwi maneh.

Hyak, sudah cukup pusing ya?? Hehehhe. Okay. Memang ulasan angin yang menyapu daerah Pati Kota di hari itu telah sampai pada media pers Nasional, dan yang kemudian saya hadapi adalah pertanyaan tentang apa yang terjadi, bagaimana keadaan saya, sebagian ada yang mengkonfirmasi, ada pula yang menanyakan apakah kejadian itu dekat dengan tempat tinggal saya.

Memang benar seperti itulah kejadiannya. Dari berbagai sumber dapat saya perolah informasi bahwa tidak ada korban tewas dalam peristiwa tersebut. Dari Jawa Pos dikabarkan,  Kepala Pusat Data Informasi dan Humas  Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengatakan, bahwa angin tersebut menyebabkan satu korban luka berat. Selain itu, enam rumah dipastikan roboh akibat terjangan angin. Dua warung roboh, dan masing-masing satu balai desa, TK, dan SD rusak.

Selain menyebabkan rumah roboh, angin besar ini juga meninggalkan “jejak” kerusakan. Terhitung, 10 rumah, 2 warung 134 rumah warga mengalami kerusakan diikuti puluhan pohon tumbang. Untuk membantu warga, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) langsung mengirimkan logistik ke pemukiman warga korban angin puting beliung. (jawapos dan kompas.com).

Sumber dari KRjogja.com yang didapat dari Kepala Kantor Kesabangpolinmas Kabupaten Pati, Sigit Hartoko. Menurut Sigit, Senin (6/2/2012) berdasarkan pendataan TK Rahmawati dan dua bengkel mobil milik Sukarso dan Teguh di Desa Sidoharjo roboh. Khusus untuk bangunan TK Rahmawati akan mendapat perhatian khusus agar bisa digunakan lagi.

Via Apakabarpati, 5 February 2012 sebuah mobil Sedan Corolla Nopol K 7965 EA, milik Teguh Suryo Utomo 35 tahun, warga Desa Sidoharjo RT 3 Rw 1 Kecamatan Pati, yang diparkir di depan rumahnya, tertimpa pohon penghijauan.

Pudji Astutik, salah satu Pemilik Warung roboh menuturkan, saat itu dirinya sedang menanak nasi, tiba-tiba mendengar suara gemuruh, begitu keluar, tiba-tiba warung tersapu angin hingga roboh.

Sementara itu, Parsinah, 75 tahun, warga Desa Semampir pingsan melihat datangnya angin yang bergemuruh hingga  membuat atap terasnya hancur berantakan. Warga bersama-sama melakukan perbaikan atap rumah mereka masing-masing, setelah dipastikan kondisi aman. Begitu juga dengan petugas Tagana dan DPU Pati, melakukan pemotongan terhadap pohon-pohon yang tumbang.

——————-

Saya sebagai penduduk asli Desa Sidoharjo memang melihat sendiri kejadian tersebut. suaranya begitu memekakkan telinga. Dari survey lapangan via akun twitter @sekitarpati, dapat diambil kesimpulan bahwa desa Dosoman, Sidoharjo, dan Semampir yang terkena dampak angin tersebut. Saat itu informasi saya peroleh bahwa masjid Al-Huda di Desa Dosoman terkena angin. Ada pula yang mengirimkan kabar bahwa baliho yang ada di simpang lima berputar.

Penasaran denga berita twitter yang begitu heboh, saya dan adik berpatroli untuk mengecek keadaan. Dan memang benar adanya. Banyak rumah yang rusak karena genting-gentingnya tersapu angin. Beberapa lembar seng jatuh di pekarangan warga Dosoman. SD dan masjid mengalami sedikit kerusakan.

Tampak kubah masjid melorot. warga segera memperbaiki segera setelah angin selesai berhembus.

Pohon di jalan HOS COkroaminto ada yang tumbang. Sementara di pintu keluar bus pada terminal pati, ada satu pohon tombang yang menimpa mobil. Hal lain yang saya lihat saat itu ada baliho nyasar di atap rumah bos edy. Beberapa antena parabola di kawasan tersebut tidak berbnetuk.

Di perempatan lampu merah Jalan Juru Martani semakin lama semakin ramai, banyak warga yg penasaran ingin menyaksikan hasil ‘kerja’ dari angin besar tersebut.

Gambar ini saya dapat dari grup Setulan, dipostkan oleh rekan Bayu Ariefianto. Nampak bangunan luluh lantak rata denan tanah.

Kemudian saya dan adik menuju ke pusat kota, atap seng toko selecta yang bertempat di perempatan Djago menyingkap. Setelah itu, kami menyudahi pengecekan dan kembali ke rumah.

Pada gambar tampak genting berjatuhan pada salah satu rumah warga.

Kini, setelah badai berlalu, saatnya mencari tahu mengenai apa yang terjadi kemarin. Dari beberapa sumber saya memperoleh info bahwa angin yang kemarin melewati kota Pati adalah ‘putting beliung’, salah satu varian dari angin tornado. Angin ini disebabkan oleh perbedaan tekanan udara yang sangat besar. Hal ini saya sadari setelah melihat hasil jepretan sendiri hari itu. Keanehan alam terjadi, langit berwarna gelap. Akan tetapi gelap ini tidak biasa terjadi. Padahal pagi harinya sempat panas sekali. Ayah saya nyeletuk pada waktu itu mengenai keanehan ini. Seperti pertanda angin besar. Karena, apabila kita cermati, bulan Februarari ini masih masuk musim penghujan. Maka aneh rasanya bila pagi hari itu panas sekali. Kemudian saya hubungkan dengan ilmu fisika, bahwa tekanan yang berbeda akan menimbulkan angin. Semakin besar tekanan, semakin besar pula angin yang akan terjadi.

Mendung yang janggal menyelimuti kota Pati sebelum angin datang. gambar yang saya ambil dengan kamera Blackberry onyx 1 ini telah saya resize tanpa menambahkan efek apapun pada hasil gambar..

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), pada kata angin, disebutkan bahwa angin topan sama dengan angin puting beliung. Namun pada entri ‘topan’ disebutkan bahwa topan sama dengan angin ribut, badai. Kembali ke kata angin, angin ribut didefinisikan sebagai gerakan udara yang kecepatannya antara 32 dan 37 knot (mil per jam). Namun pada kata badai, dipaparkan bahwa badai adalah angin kencang yang menyertai cuaca buruk (yang datang dengan tiba-tiba) berkecepatan antara 64 dan 72 knot; topan.

Sedangkan sumber Wikipedia menyatakan bahwa angin adalah udara bergerak yang diakibatkan oleh rotasi bumi dan juga karena adanya perbedaan tekanan udara di sekelilingnya. Apabila dipanaskan, udara memuai. Udara yang telah memuai menjadi lebih ringan sehingga naik. Apabila hal ini terjadi, tekanan udara turun kerena udaranya berkurang. Udara dingin di sekitarnya mengisi ke tempat yang bertekanan rendah tadi. Udara menyusut menjadi lebih berat dan turun ke tanah. Di atas tanah udara menjadi panas lagi dan naik kembali. Aliran naiknya udara panas dan turunnya udara dingin ini dinamakan konveksi.

Jadi, apa bedanya?

Dari kaskus saya memperoleh informasi, bahwa, apabila disejajarkan seperti diatas, akan nampak bahwa jenis-jenis angin kencang dibedakan dari kecepatannya dan besarnya, serta tingkat kerusakan yang diakibatkan. Angin puting beliung (angin ribut) melanda kawasan yang tak terlalu luas dan terjadi hanya dalam kisaran jam, sedangkan topan (badai) mampu meluluhlantakkan kawasan yang luas dan bisa bertahan berhari hari, bahkan lebih dari seminggu.

Di Amerika, dikenal istilah tornado yang merupakan jenis topan badai. Begitu juga dengan hurricane. Tornado merupakan badai lokal yang mempunyai diameter wilayah antara 50 m sampai lebih dari 1,5 mil. Sering muncul di Amerika pada saat udara dingin dari Canada bertemu dengan udara hangat dari Mexico. Angin dapat bertiup pada kecepatan 60 sampai lebih dari 320 mil per jam, menyebabkan lebih banyak kerusakan dibandingkan angin ribut. Tornado biasanya diikuti oleh hujan es dan petir. Jenis badai ini sangat sulit diprediksi karena durasinya yang pendek.

Salah satu jenis angin yang ada di Indonesia adalah angin bahorok. Angin bahorok adalah salah satu jenis angin fohn yang hanya terjadi di Indonesia, diambil dari nama salah satu daerah di Indonesia. Angin ini bertiup di daerah dataran rendah Deli Utara, Sumatra Utara. Karena datangnya dari arah kota Bohorok, maka dinamakan Angin Bohorok. Bohorok terletak pada arah barat-barat-laut dari Medan. Tanda-tanda terjadinya angin bahorok yaitu hawa panas yang muncul dari arah pegunungan bahorok dan dapat dilihat dari mulai mengeringnya daun-daun.

 

Apakah Tornado sama dengan Putting beliung?

Jawabnya ya. Perbedaannya hanya pada penyebutan dan skala intensitas Tornado, di Indonesia Tornado dikenal dengan sebutan angina putting beliung atau angina leysus, yang berbeda adalah dalam skala intensitasnya saja, di Indonesia tornado haya sedikit

Menurut Kamus Meteorologi (AMS 2000), tornado adalah “ suatu kolom udara yang berputar dengan kencang, timbul dari awan cumuliform atau dari bagian bawah awan cumuliform, dan sering ( tidak selalu ) tampak seperti funnel cloud.” Dengan kata lain, sebuah vorteks yang diklasifikasikan sebagai tornado, harus terhubung dengan permukaan tanah dan dasar awan. Ahli meteorology belum menemukan cara yang mudah untuk mengklasifikasi dan mendefinisikan tornado. Contohnya, tidak ada perbedaan yang jelas antara mesosiklon ( sirkulasi badai guntur induk ) di permukaan dengan tornado lemah yang besar. Sudah diketahui bahwa funnel pada tornado tidak tampak. Juga, pada kecepatan berapa dari awan ke permukaan tornado berawal.

Ternyata dibalik dahsyatnya tornado, angin ini menyimpan manfaat, yakni menjaga suhu daerah yang dilalui tornado agar daerah tersebut tidak terlalu dingin/panas karena tornado membawa angin dari derah lain yang biasanya dari daerah lebih dingin. Mungkin kalau tidak ada tornado banyak daerah yang menjadi gurun dan padang Es, seperti misalnya negara seperti amerika latin yang menjadi gurun akibat tidak ada tornado, atau seperti Negara-negara di Amerika serikat menjadi padang Es karena tidak ada tornado.

Mengenai ‘penthil muter’, istilah ini saya temukan ketika sedang browse informasi seputar tornado. Pertama kali membacanya, saya terpingkal karena terdengar begitu lucu. Menurut artikel yang saya baca, istilah ini diciptakan oleh salah satu TV lokal di Jawa Timur, JTV, pada program Pojok Kampung yang ditayangkan setiap pukul 21.30 WIB, dengan mengunakan Bahasa Jawa dialek Suroboyoan yang unik dan terdengar kasar. Masih merunut artikel tersebut, seringkali ada kata-kata baru yang diambil baik dari kata kuno, maupun rekaan sendiri yang kadang-kadang kedengaran aneh.

Kemudian, istilah ‘penthil muter’, ternyata sama dengan ‘puting beliung’ alias angin yang berputar-putar itu.Menurut si empunya blog yang mengepostkan artikel ini di tahun 2007, istilah ini terkesan dicomot begitu saja secara ‘mekso’ dari bahasa Indonesia. (http://bambangpriantono.multiply.com/journal/item/1800).

Puting = penthil

Beliung = muter

Hemm..bagaimana??

Hehe.. 😀

Kebudayaan Jawa yang begitu kaya sebenarnya telah mewariskan kepada kita dasanama untuk angin. Ambil contoh saja, bayu, braja, maruta, prahara, pawana, riwut, samirana, atau sebutan angin besar lainnya seperti topan dan leysus yang bahkan lebih agung dan halus. Maka, berbanggalah menjadi warga Negara Indonesia. Kemudian, untuk selanjutnya, satu tips dari teman saya, bila terjadi angin besar, bersembunyilah di dalam lubang, di dalam selokan, atau masuklah ke bunker. Semoga makin mawas dan awas sehingga alam menjadi kawan.

Sumber:

http://rengganiez.multiply.com/journal/item/552/Penthil_Muter-Muter

(http://bambangpriantono.multiply.com/journal/item/1800)

Jawa pos

Kaskus.com

Kompas.com

Liputan6.com

Microsoft Encarta 2007

Wikipedia


Setelah sukses menampilkan aksinya pada acara Pensi Tahun Baru, kini Tim Operet PIK-R ‘Taruna Ceria’ kembali didaulat berpentas dalam rangka Perayaan Natal di Desa Sidoharjo, Kecamatan Pati, Kabupaten Pati, Jawa Tengah. Acara dilaksanakan pada tanggal 14 Januari 2012, bertempat di belakang Balai Desa Sidoharjo.

Mengusung kembali lakon ‘Lair Sajroning Kubur’, Tim Operet PIK-R ‘Taruna Ceria’ menunjukkan taringnya sekali lagi. Dengan format sedikit berbeda dari yang lalu, karena akan ada lakon ‘goro-goro’ alias dagelan. Sungguh menarik sekali, karena ini bukan dagelan biasa. Pun dagelan ini pada pertunjukan Pentas Seni Tahun Baru 2012 kemarin telah berhasil mengocok perut para penonton.

Kerabat kerja Tim Operet PIK-R 'Taruna Ceria' dan Dagelan Cilik beserta Pembina PIK-Remaja, Ibu Harini, dalam acara Perayaan Natal 2012 di Balai Desa Sidoharjo Kecamatan Pati Jawa Tengah.

Bagaimana tidak. Jargon-jargon khas dagelan dan logat Setulan yang medhok, membuat geli siapa saja yang mendengarnya. Tidak hanya karena olah tubuh yang lucu, tapi para pelakunya pun masih sangat menggemaskan, atau dalam bahasa masa kini disebut ‘unyu-unyu’, sebab dagelan ini dilakonkan oleh anak-anak kecil. Benar-benar kreatif. Dengan mengaitkan isi lawakan mereka dengan keadaan sebenarnya, membuat lawakan ini berbobot. Misalnya saja ketika salah seorang berkata yang kurang lebih intinya demikian,

“Kene go, tak kandhani. Kowe ngerti, sak uwise Desa Sidoharjo dipimpin Pak Siwoyo, saiki dadi tambah maju. Ibu-ibu dadi sregep ngaji”

(Hei kemari, kuberitahu sesuatu. Tau gak sih, semenjak Desa Sidoharjo dipimpin oleh Bapak Siswoyo, sekarang jadi maju. Ibu-ibu jadi rajin mengaji.)

Kemudian ada yang menimpali,

“Sing ndi leh wonge?”

(Yang mana sih orangnya?)

Lalu teman-temannya menunjukkan dengan ekspresi lucu,

“Iku lhoo..

(Itu lhoo..)

Gerrr. Penonton tertawa lepas, sedangkan bapak yang ditunjuk tersenyum simpul.

Semakin terpingkal-pingkal penonton dibuatnya ketika dagelan cilik ini menampilkan punchline mereka,

“Heh, kuwe ngerti aku mau prodong-prodong mrene iki ono opo?”

(eh, kalian tau gak sih aku tadi ke sini buru-buru ada apa?)

“Lha ono opo e, kok malah takon?”

(Emangnya ada apa sih? Kok malah balik nanya?)

Balas temannya.

“Isin aku!!”

(Aku malu!!!)

Jawabnya dengan muka bersemu merah.

“Ngomong a..ono opo leh?”

(Bicaralah..ada apa sih?)

Sambut temannya penasaran.

“Iyo bener, pancen Deso kene tambah maju bareng dipimpin Pak Siswoyo.”

(memang benar Desa ini tambah maju setelah dipimpin Bapak Siswoyo.)

Menghela nafas.

“Ibu-ibu kabeh dadi sregep ngaji nek sore. Nganggo klambi puteh-puteh do mangkat ngaji. Nanging, ono siji sing gak tak senengi..”

(Semua ibu jadi rajin mengaji di sore hari. Memakai baju serba putih berarak untuk mengaji. Tapi, ada satu hal yang tidak aku sukai..)

Kalimat menggantung membuat temannya penasaran, kemudian bertanya.

“Lha opo?”

(Apa memangnya?)

Dengan menutup muka gadis cilik ini melanjutkan.

“Ibukku dewe!!! Ora gelem ngaji!!!”

(Ibuku sendiri!!! Enggak mau mengaji!!!)

Terdengar tawa riuh penonton, disambut teriakan teman dagelannya,

“Lha adekmu menthil ae!!!!”

(Habisnya, adikmu menyusu terus!!!)

Penonton semakin terpingkal-pingkal.

Kemudian berakhir. Tepukan riuh menggema menyambut punchline yang sempruna malam itu.

Oleh karenanya, sungguh suatu kehormatan bila kolaborasi dagelan cilik dan operet disatukan dalam satu jalan cerita. Apalagi acara berikut adalah suatu perayaan sakral bagi umat Kristen dan Katolik Desa Sidoharjo.

Maka, yang terjadi selanjutnya adalah cerminan ‘Tri Rukun Umat Beragama’. Melambungkan ingatan kita kembali ketika kerukunan menjadi topik pembicaraan penting tatkala memasuki zaman orde Baru. Pada waktu itu pemerintah mengazas tunggal Pancasila, dan dari sinilah kemudian melahirkan apa yang dinamakan,

Tri Rukun Umat Beragama:

1. rukun umat seagama,

2. rukun antar umat beragama dan

3. rukun antar umat beragama dan pemerintah.

Ditengah gempita media pemberitaan yang acakadut, justru di sinilah kemurnian akan penghormatan terhadap sesama mahluk Tuhan ditunjukkan. Di sebuah Desa Bernama Sidoharjo. Suatu event merefleksikan sifat asli warga Pati, yang hidup saling menghormati. Sekelumit kisah disini, sudah merepresentasi toleransi tanpa tedheng aling-aling. Toleransi yang benar-benar sifat asli Pati.

Malam itu, setelah petuah-petuah Natal disampaikan, dilanjutkan dengan penyalaan lilin dan doa bersama, acara seni tari dan operet segera menyusul di belakangya.

Lakon yang menampilkan alur cerita seram serasa dialihkan sesaat ketika lakon ‘goro-goro’ muncul.

Mengusung tema dagelan berbeda, kelima komedian cilik ini beraksi. Tengok saja ketika mereka berlatih menyanyikan lagu.

Salah satu dagelan berkata pada temannya,

“Iki aku tak nyanyi, engko saut yoo?”

(Ini aku akan menyanyi, nanti disahut yaa?)

“Oke!!” Jawab kedua rekannya.

Kemudian ia mulai menyanyi salah satu lagu Rhoma Irama.

“Dulu aku gila padamu, dulu aku memang gila…”

Kedua rekannya mengayunkan tangan di depan rekannya yang menyayi, seolah-olah hendak merengkuh sesuatu. Merasa heran, dagelan pertama kemudian protes,

“Lho?? Kuwe iku lahopo?? Tak kon nyaut kok malah meneng ae?? Malah jogetan karepe dewe??”

(Loh?? Kalian ini lagi ngapain?? Tadi kan aku suruh menyahut. Kok malah diam saja?? Malah seenaknya sendiri??)

Dengan polos kedua rekannya menjawab,

“Lhoo..jarenem mau kon nyaut?? Iku dak wes tak saut aaa???”

(Lohh..kamu bilang tadi suruh kita menyahut?? Itu tadi sudah kita sahut??)

Gerrr. Ketawa penonton pun pecah.

Demikinlah, kolaborasi operet dan dagelan cilik berhasil merebut decak kagum penonton. Hingga pertunjukkan berakhir, perhatian penonton selalu tertuju pada pertunjukkan ini. Diiringi dengan hujan rintik, pembauran warga dalam kesakralan acara bersinergi. Tanpa memandang tutup kepala, tanpa memandang kau siapa aku siapa. Sebuah komposisi apik, mengusung kekayaan budaya lokal yang bersumber dari warisan leluhur. Mengingat derasnya arus budaya luar yang menyesaki ruang hidup kita, setidaknya masih banyak yang mencinta budaya bangsa. Salah satunya dengan menampilkan operet berbahasa Jawa, generasi muda semakin bangga akan tanah yang dipijaknya, terutama Pati Bumi Mina Tani tercinta.

Ketika seluruh pengisi acara dan penonton kembali ke rumah masing-masing di malam itu, diharapkan kesadaran akan makna kebersamaan semakin terpatri di lubuk hati. Tentang makna hari besar sebagai alat pemersatu umat manusia. Hingga tercipta toleransi dan kerukunan antar umat beragama. Yang bila boleh saya melihatnya dari sudut sini, keduanya bagaikan dua sisi mata uang. Kerukunan berhubungan erat dengan toleransi; begitu pula sebaliknya. Keduanya menyangkut hubungan antar sesama manusia. Jika tri kerukunan (antar umat beragama, intern umat seagama, dan umat beragama dengan pemerintah) terbangun serta diaplikasikan pada hidup dan kehidupan sehari-hari, maka akan muncul toleransi antar umat beragama. Atau, jika toleransi antar umat beragama dapat terjalin dengan baik dan benar, maka akan menghasilkan masyarakat yang rukun satu sama lain. Begitulah hal yang dapat saya tangkap mengenai event yang diadakan di desa saya kali ini.

Dengan demikian, semoga damai akan tercipta di langit dan di bumi.

Beriring dengan selarik hyme ternama ‘Greater Doxology’ yang dalam bahasa Indonesia,

Kemuliaan bagi Tuhan di tempat yang Mahatinggi..

“Gloria in excelcis Deo.”


Pusat Informasi dan Konseling (PIK) Remaja dibentuk untuk mengarahkan pergaulan ramaja masa kini agar mampu menghadapi segala pengaruh dari lingkungan sekitarnya. Beberaa hal negative seperti pergaulan bebas dan juga penyalah gunaan narkoba, hendaknya diperkenalkan. Hal ini penting untuk memberi pangetahuan tentang akibat-akibat yang timbul bila mendekati atau memasuki hal tersebut. Sebagai Pembina, tentu saja sebatas memberikan arahan. Tapi nantinya kembali lagi kepada pribadi itu sendiri untuk bijak memilah yang baik bagi kahidupan mereka.

Tujuan dibentuknya PIK Remaja antara lain adalah sebagai wadah untuk memberikan solusi, nasehat maupun jalan keluar bagi kawan sebaya yang mempunyai permasalahan pergaulan, reproduksi dan narkoba. Organisasi yang bernaung di bawah pokja 1 PKK Ds sidoharjo ini berkembang dengan pesat.

Banyak kegiatan yang telah organisasi ini lakukan. Dengan ikut aktif dalam pembinaan remaja setiap bulannya. Mengikuti lomba antar pik hingga tingkat propinsi, mengadakan kegiatan tahunan, dan msh bnyk lg yg lainnya.

Kegiatan PIK ini berkembang dalam berbagai bidang. Salah satunya adalah acara pentas seni dalam rangka menyambut tahun baru 2012.

Persiapan acara dalam menyambut tahun baru 2012 sudah dilakukan warga Desa Sidoharjo, Kecamatan Pati, Kabupaten Pati, Jawa Tengah, sejak tiga bulan sebelumnya. Penyelenggara acara ini adalah pemuda pemudi warga Desa Sidoharjo, dengan pendukung acaranya adalah warga desa sendiri.

Kegiatan seperti halnya pentas seni ini sudah berlangsung sejak 2010-2011. Bahkan semakin bertambah tahun semakin ramai dan guyub berkat kerja sama antar sesama warganya. Memasuki tahun ke duanya, penggiat acara ini semakin banyak saja.

Antusiame warga terlihat dalam keterlibatan mereka untuk mendaftarkan putra putri mereka sebagai pengisi acara pentas seni ini.

PIK-R Taruna Ceria sendiri terbentuk pada tahun 2009. Pusat Informasi dan Konseling (PIK) Remaja sebagai wadah kegiatan positif bagi remaja dalam mengisi masa-masa tumbuh kembangnya, hendaknya pintar mencari peluang untuk memajukan organisasinya.

Bagai satu tubuh yang antar organnya saling bekerja sama supaya badan senantiasa sehat, seperti itulah kerja sama warga Desa yang satu ini. Antar divisi yang terpilah pilah menurut perannya masing-masing ini bekerja dengan serius mempersiapkan segalanya.

Penyelenggaraan acara pentas seni sendiri diselenggarakan hari Senin tanggal 2 Januari 2012. Persiapan panggung sudah dimulai siang harinya. Kedatangan panggung dan tenda tratag, disusul alat musik, sound system dan tata lampu.

Banyak pengisi acara yang sudah bersiap melakukan gladi. Dimulai dari paduan suara ibu PKK, kemudian paduan suara PIK-Remaja. Masing-masing mempersiapkan diri sesuai bagiannya.

Disusul dengan operet yang melakukan gladi sambil menyesuaikan lebar panggung dan setting in out yang nantinya dilakoni.

Kelar gladi bersih operet, tim tata panggung mengadakan checking untuk alat band dan lighting. Karena bintang tamu utama sudah hadir sore itu, maka segera didaulat untuk naik ke panggung. Acara jamming beerlangsung meriah. Pengecekan sound ini berlangsung dengan lancar dan sempurna. Semua-muanya tampak siap untuk acara malam nanti. Semua orang kembali ke rumah masing-masing untuk bersiap-siap.

 

Acara pensi pun dimulai tepat pukul tujuh malam itu. Hadirin dan tamu undangan sudah hadir di venue. Semua orang tampak antusias. Wajah mereka tampak sumringah. Mereka ini datang bersama keluarganya, bahkan ada yang membawa teman sebaya.

Sususan acara sebagai berikut:

  • Mars PKK oleh ibu-ibu anggota PKK Desa Sidoharjo
  • Mars PIK remaja oleh anggota PIK-R ‘Taruna Ceria’
  • Kata sambutan oleh ibu Harini sebagai ketua PIK-R ‘Taruna Ceria’
  • Kata sambutan oleh bapak Siswoyo sebagai Kepala Desa Sidoharjo
  • Tari-taarian tradisional dan modern oleh anak-anak dan remaja
  • Operet remaja
  • Band-band dari Desa Sidoharjo
  • Bintang Tamu: Atap Band

Acara terbuka ini dihadiri oleh hampir semua warga Desa maupun hadirin dari luar. Semua tumplek blek menjadi saksi keriuhan pentas seni.

Tarian bergenre tradisonal, moden dance, sampai boyband dan girlband ikut memeriahkan acara malam tersebut.

Salah satu hal yang paling ditunggu adalah operet remaja yang penampilannya pada tahun sebelumnya sukses menggemparkan dan membuat decak kagum penonton, malam itu kembali hadir. Pada tahun sebelumnya, operet remaja ini mengusung judul ‘Suminten Edan’, telah sukses menghipnotis penonton. Membawa para bapak ibu warga Desa Sidorjo pada memori masa muda mereka, dimana operet adalah tontonan menarik dan ditunggu.

Pada tahun 1989 operet sempat menyita perhatian dan kecintaan masyarakat. Maka tidak heran bila antusiame penonton meruah. Apalagi yang tampil ini adalah generasi muda, anak-anak mereka yg tergabung dlm PIK-R, sedikit banyak menostalgiakan angan mereka.

Penampilan operet malam itu bertajuk ‘Lair Sajroning Kubur’ atau bisa dialihbahasakan menjadi ‘Beranak Dalam Kubur’. Penonton seperti mengikuti alur dengan hikmat. Pun suasana yang di set sedemikian rupa sehingga penonton seperti berada dalam suasana mistis. Sebagian tampak merinding saat setan bergentayangan. Ditambah lagi pocong yang menghampiri ke tempat duduk penonton satu persatu. Aroma menyan menyeruak rongga hidung. Banyak yang berteriak ketakutan. Bahkan sekumpulan lelaki berperawakan garang yang tengah meonton pun lari tunggang langgang.

Selanjutnya penampilan band-band lokal Desa Sidoharjo menambah riuh antusiasme penonton malam itu. Tapi, kesenangan tidak berhenti disini saja. Bintang tamu malam itu, Atap Band, telah ditunggu-tunggu. Mood penonton terdongkrak dengan lagu-lagu yang dibawakan Band ini.

Mengenai Atap Band Sendiri, merupakan band yang hampir seluruh anggotanya adalah warga Des Sidoharjo. Reputasi mereka di Pati tidak bisa dipandang sebelah mata. Terbukti, permainan mereka sanggup membikin nyaman kuping pendengar malam itu.

Singkatnya, acara yang bertajuk Pentas Seni ini menuai banyak pujian dan tentu saja mempererat kekeluargaan antar warga Desa Sidoharjo. Dengan harapan, semoga ke depan lebih baik lagi dalam peyelenggaraannya, dan PIK-Remaja akan bisa menjadi wadah penyaluran aspirasi positif pemuda Desa Sidoharjo.