Mengacu pada malam meracau
Semakin kacau
Yang kata orang,
Dinamai: galau.
Serupa dinding beton yang ditalu
Seribu satu
Manusia menyerbu.
Ketika riuh berpusing mendesing
Tepuk ramai orang bersahut menyahut
Saling memagut
Bagai bibir bertaut, saling sambar menyambar.
Coba samakan gerisik
Kelakar pada ranting kering
Yang berjelaga
Laiknya lusinan pirates Tortuga, terbelenggu mantra
Jauhlah kiranya dari peradaban,
Hingga jeritan membahana tanpa tatakrama.

Tak hendak tanda hening.
Meski tanpa suara,
Tapi riuh tetap di sana: dunia maya
Serentetan kalimat ditodongkan
Tidak pula akan berhenti
Tak jua beranjak,
Hening bagaikan mati
Tapi ia belum mati
Konon hanya mati suri.

Barangkali ia kini ‘tlah dewasa
Menggenggam asa
Bara dan debar-debar di dada
Mengepulkan aura, serupa la nina
Melagu pada pucuk tertetes air
Sementara konstanta sibuk merayunya untuk turun jelajahi bumi
Hening masih saja memojok
Tanpa berkata-kata, meski lirih
Ia tetap tersungkur, dan hening.

 

 

Pati, Monday, 20 February 2012
Fleyora (a.k.a Anandha)
11:45

Advertisements