Kedadeyan ing dina Minggu awan, 4 Februari 2012 kurang luwihe jam 12.30, ngepasi bakdal Dzuhur kuwi pancen marakake mbediding. Wektu kuwi aku karo adhiku lagi nonton TV ing jero omah. Kanthi tanpa pratanda ujug-ujug ana suwara rame banget kaya seng di kipat-kipatake lan ditabrak-tabrakake. Amarga kebrebegen, aku dadi penasaran karo suwara kuwi.

Dak mat-matke suwarane kaya tambah cedak. Banjur aku lan adhiku metu omah. Rikala semana jebul tangga sebelah uga metu amarga penasaran suara apa sing mbrebegi kuping.

Nanging apa sing tak deleng rikala kuwi pancen ora umum. Ono bentuk koyo corong gedhe banget, isine seng sekitar telung ler, pemean, lan barang-barang cilik akeh banget, mubeng-mubeng kayata kumbahan sing diputer ing jero mesin cuci. Aku nate nonton angin sing kaya kuwi amung ing layar TV. Blais tenan yen nganti daerah omahku kesawut ‘penthil muter’. 😥

Aku, adhiku, lan tanggaku mung ngadeg ngeweh nonton kedadeyan kuwi. Rikala semana aku ngadeg karo ngewel. Wedi tenan yen angin kuwi ngliwati omahku. Awakku adem panas golek cekelan, amarga angine ngarah maring daerahku. Nanging kasunyatane ora. Angin mau menggok menyang arah terminal banjur ngilang. Atiku tetep deg-degan amarga wedi yen ana kedadeyan kaya kuwi maneh.

Hyak, sudah cukup pusing ya?? Hehehhe. Okay. Memang ulasan angin yang menyapu daerah Pati Kota di hari itu telah sampai pada media pers Nasional, dan yang kemudian saya hadapi adalah pertanyaan tentang apa yang terjadi, bagaimana keadaan saya, sebagian ada yang mengkonfirmasi, ada pula yang menanyakan apakah kejadian itu dekat dengan tempat tinggal saya.

Memang benar seperti itulah kejadiannya. Dari berbagai sumber dapat saya perolah informasi bahwa tidak ada korban tewas dalam peristiwa tersebut. Dari Jawa Pos dikabarkan,  Kepala Pusat Data Informasi dan Humas  Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengatakan, bahwa angin tersebut menyebabkan satu korban luka berat. Selain itu, enam rumah dipastikan roboh akibat terjangan angin. Dua warung roboh, dan masing-masing satu balai desa, TK, dan SD rusak.

Selain menyebabkan rumah roboh, angin besar ini juga meninggalkan “jejak” kerusakan. Terhitung, 10 rumah, 2 warung 134 rumah warga mengalami kerusakan diikuti puluhan pohon tumbang. Untuk membantu warga, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) langsung mengirimkan logistik ke pemukiman warga korban angin puting beliung. (jawapos dan kompas.com).

Sumber dari KRjogja.com yang didapat dari Kepala Kantor Kesabangpolinmas Kabupaten Pati, Sigit Hartoko. Menurut Sigit, Senin (6/2/2012) berdasarkan pendataan TK Rahmawati dan dua bengkel mobil milik Sukarso dan Teguh di Desa Sidoharjo roboh. Khusus untuk bangunan TK Rahmawati akan mendapat perhatian khusus agar bisa digunakan lagi.

Via Apakabarpati, 5 February 2012 sebuah mobil Sedan Corolla Nopol K 7965 EA, milik Teguh Suryo Utomo 35 tahun, warga Desa Sidoharjo RT 3 Rw 1 Kecamatan Pati, yang diparkir di depan rumahnya, tertimpa pohon penghijauan.

Pudji Astutik, salah satu Pemilik Warung roboh menuturkan, saat itu dirinya sedang menanak nasi, tiba-tiba mendengar suara gemuruh, begitu keluar, tiba-tiba warung tersapu angin hingga roboh.

Sementara itu, Parsinah, 75 tahun, warga Desa Semampir pingsan melihat datangnya angin yang bergemuruh hingga  membuat atap terasnya hancur berantakan. Warga bersama-sama melakukan perbaikan atap rumah mereka masing-masing, setelah dipastikan kondisi aman. Begitu juga dengan petugas Tagana dan DPU Pati, melakukan pemotongan terhadap pohon-pohon yang tumbang.

——————-

Saya sebagai penduduk asli Desa Sidoharjo memang melihat sendiri kejadian tersebut. suaranya begitu memekakkan telinga. Dari survey lapangan via akun twitter @sekitarpati, dapat diambil kesimpulan bahwa desa Dosoman, Sidoharjo, dan Semampir yang terkena dampak angin tersebut. Saat itu informasi saya peroleh bahwa masjid Al-Huda di Desa Dosoman terkena angin. Ada pula yang mengirimkan kabar bahwa baliho yang ada di simpang lima berputar.

Penasaran denga berita twitter yang begitu heboh, saya dan adik berpatroli untuk mengecek keadaan. Dan memang benar adanya. Banyak rumah yang rusak karena genting-gentingnya tersapu angin. Beberapa lembar seng jatuh di pekarangan warga Dosoman. SD dan masjid mengalami sedikit kerusakan.

Tampak kubah masjid melorot. warga segera memperbaiki segera setelah angin selesai berhembus.

Pohon di jalan HOS COkroaminto ada yang tumbang. Sementara di pintu keluar bus pada terminal pati, ada satu pohon tombang yang menimpa mobil. Hal lain yang saya lihat saat itu ada baliho nyasar di atap rumah bos edy. Beberapa antena parabola di kawasan tersebut tidak berbnetuk.

Di perempatan lampu merah Jalan Juru Martani semakin lama semakin ramai, banyak warga yg penasaran ingin menyaksikan hasil ‘kerja’ dari angin besar tersebut.

Gambar ini saya dapat dari grup Setulan, dipostkan oleh rekan Bayu Ariefianto. Nampak bangunan luluh lantak rata denan tanah.

Kemudian saya dan adik menuju ke pusat kota, atap seng toko selecta yang bertempat di perempatan Djago menyingkap. Setelah itu, kami menyudahi pengecekan dan kembali ke rumah.

Pada gambar tampak genting berjatuhan pada salah satu rumah warga.

Kini, setelah badai berlalu, saatnya mencari tahu mengenai apa yang terjadi kemarin. Dari beberapa sumber saya memperoleh info bahwa angin yang kemarin melewati kota Pati adalah ‘putting beliung’, salah satu varian dari angin tornado. Angin ini disebabkan oleh perbedaan tekanan udara yang sangat besar. Hal ini saya sadari setelah melihat hasil jepretan sendiri hari itu. Keanehan alam terjadi, langit berwarna gelap. Akan tetapi gelap ini tidak biasa terjadi. Padahal pagi harinya sempat panas sekali. Ayah saya nyeletuk pada waktu itu mengenai keanehan ini. Seperti pertanda angin besar. Karena, apabila kita cermati, bulan Februarari ini masih masuk musim penghujan. Maka aneh rasanya bila pagi hari itu panas sekali. Kemudian saya hubungkan dengan ilmu fisika, bahwa tekanan yang berbeda akan menimbulkan angin. Semakin besar tekanan, semakin besar pula angin yang akan terjadi.

Mendung yang janggal menyelimuti kota Pati sebelum angin datang. gambar yang saya ambil dengan kamera Blackberry onyx 1 ini telah saya resize tanpa menambahkan efek apapun pada hasil gambar..

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), pada kata angin, disebutkan bahwa angin topan sama dengan angin puting beliung. Namun pada entri ‘topan’ disebutkan bahwa topan sama dengan angin ribut, badai. Kembali ke kata angin, angin ribut didefinisikan sebagai gerakan udara yang kecepatannya antara 32 dan 37 knot (mil per jam). Namun pada kata badai, dipaparkan bahwa badai adalah angin kencang yang menyertai cuaca buruk (yang datang dengan tiba-tiba) berkecepatan antara 64 dan 72 knot; topan.

Sedangkan sumber Wikipedia menyatakan bahwa angin adalah udara bergerak yang diakibatkan oleh rotasi bumi dan juga karena adanya perbedaan tekanan udara di sekelilingnya. Apabila dipanaskan, udara memuai. Udara yang telah memuai menjadi lebih ringan sehingga naik. Apabila hal ini terjadi, tekanan udara turun kerena udaranya berkurang. Udara dingin di sekitarnya mengisi ke tempat yang bertekanan rendah tadi. Udara menyusut menjadi lebih berat dan turun ke tanah. Di atas tanah udara menjadi panas lagi dan naik kembali. Aliran naiknya udara panas dan turunnya udara dingin ini dinamakan konveksi.

Jadi, apa bedanya?

Dari kaskus saya memperoleh informasi, bahwa, apabila disejajarkan seperti diatas, akan nampak bahwa jenis-jenis angin kencang dibedakan dari kecepatannya dan besarnya, serta tingkat kerusakan yang diakibatkan. Angin puting beliung (angin ribut) melanda kawasan yang tak terlalu luas dan terjadi hanya dalam kisaran jam, sedangkan topan (badai) mampu meluluhlantakkan kawasan yang luas dan bisa bertahan berhari hari, bahkan lebih dari seminggu.

Di Amerika, dikenal istilah tornado yang merupakan jenis topan badai. Begitu juga dengan hurricane. Tornado merupakan badai lokal yang mempunyai diameter wilayah antara 50 m sampai lebih dari 1,5 mil. Sering muncul di Amerika pada saat udara dingin dari Canada bertemu dengan udara hangat dari Mexico. Angin dapat bertiup pada kecepatan 60 sampai lebih dari 320 mil per jam, menyebabkan lebih banyak kerusakan dibandingkan angin ribut. Tornado biasanya diikuti oleh hujan es dan petir. Jenis badai ini sangat sulit diprediksi karena durasinya yang pendek.

Salah satu jenis angin yang ada di Indonesia adalah angin bahorok. Angin bahorok adalah salah satu jenis angin fohn yang hanya terjadi di Indonesia, diambil dari nama salah satu daerah di Indonesia. Angin ini bertiup di daerah dataran rendah Deli Utara, Sumatra Utara. Karena datangnya dari arah kota Bohorok, maka dinamakan Angin Bohorok. Bohorok terletak pada arah barat-barat-laut dari Medan. Tanda-tanda terjadinya angin bahorok yaitu hawa panas yang muncul dari arah pegunungan bahorok dan dapat dilihat dari mulai mengeringnya daun-daun.

 

Apakah Tornado sama dengan Putting beliung?

Jawabnya ya. Perbedaannya hanya pada penyebutan dan skala intensitas Tornado, di Indonesia Tornado dikenal dengan sebutan angina putting beliung atau angina leysus, yang berbeda adalah dalam skala intensitasnya saja, di Indonesia tornado haya sedikit

Menurut Kamus Meteorologi (AMS 2000), tornado adalah “ suatu kolom udara yang berputar dengan kencang, timbul dari awan cumuliform atau dari bagian bawah awan cumuliform, dan sering ( tidak selalu ) tampak seperti funnel cloud.” Dengan kata lain, sebuah vorteks yang diklasifikasikan sebagai tornado, harus terhubung dengan permukaan tanah dan dasar awan. Ahli meteorology belum menemukan cara yang mudah untuk mengklasifikasi dan mendefinisikan tornado. Contohnya, tidak ada perbedaan yang jelas antara mesosiklon ( sirkulasi badai guntur induk ) di permukaan dengan tornado lemah yang besar. Sudah diketahui bahwa funnel pada tornado tidak tampak. Juga, pada kecepatan berapa dari awan ke permukaan tornado berawal.

Ternyata dibalik dahsyatnya tornado, angin ini menyimpan manfaat, yakni menjaga suhu daerah yang dilalui tornado agar daerah tersebut tidak terlalu dingin/panas karena tornado membawa angin dari derah lain yang biasanya dari daerah lebih dingin. Mungkin kalau tidak ada tornado banyak daerah yang menjadi gurun dan padang Es, seperti misalnya negara seperti amerika latin yang menjadi gurun akibat tidak ada tornado, atau seperti Negara-negara di Amerika serikat menjadi padang Es karena tidak ada tornado.

Mengenai ‘penthil muter’, istilah ini saya temukan ketika sedang browse informasi seputar tornado. Pertama kali membacanya, saya terpingkal karena terdengar begitu lucu. Menurut artikel yang saya baca, istilah ini diciptakan oleh salah satu TV lokal di Jawa Timur, JTV, pada program Pojok Kampung yang ditayangkan setiap pukul 21.30 WIB, dengan mengunakan Bahasa Jawa dialek Suroboyoan yang unik dan terdengar kasar. Masih merunut artikel tersebut, seringkali ada kata-kata baru yang diambil baik dari kata kuno, maupun rekaan sendiri yang kadang-kadang kedengaran aneh.

Kemudian, istilah ‘penthil muter’, ternyata sama dengan ‘puting beliung’ alias angin yang berputar-putar itu.Menurut si empunya blog yang mengepostkan artikel ini di tahun 2007, istilah ini terkesan dicomot begitu saja secara ‘mekso’ dari bahasa Indonesia. (http://bambangpriantono.multiply.com/journal/item/1800).

Puting = penthil

Beliung = muter

Hemm..bagaimana??

Hehe.. 😀

Kebudayaan Jawa yang begitu kaya sebenarnya telah mewariskan kepada kita dasanama untuk angin. Ambil contoh saja, bayu, braja, maruta, prahara, pawana, riwut, samirana, atau sebutan angin besar lainnya seperti topan dan leysus yang bahkan lebih agung dan halus. Maka, berbanggalah menjadi warga Negara Indonesia. Kemudian, untuk selanjutnya, satu tips dari teman saya, bila terjadi angin besar, bersembunyilah di dalam lubang, di dalam selokan, atau masuklah ke bunker. Semoga makin mawas dan awas sehingga alam menjadi kawan.

Sumber:

http://rengganiez.multiply.com/journal/item/552/Penthil_Muter-Muter

(http://bambangpriantono.multiply.com/journal/item/1800)

Jawa pos

Kaskus.com

Kompas.com

Liputan6.com

Microsoft Encarta 2007

Wikipedia

Advertisements