Setelah sukses menampilkan aksinya pada acara Pensi Tahun Baru, kini Tim Operet PIK-R ‘Taruna Ceria’ kembali didaulat berpentas dalam rangka Perayaan Natal di Desa Sidoharjo, Kecamatan Pati, Kabupaten Pati, Jawa Tengah. Acara dilaksanakan pada tanggal 14 Januari 2012, bertempat di belakang Balai Desa Sidoharjo.

Mengusung kembali lakon ‘Lair Sajroning Kubur’, Tim Operet PIK-R ‘Taruna Ceria’ menunjukkan taringnya sekali lagi. Dengan format sedikit berbeda dari yang lalu, karena akan ada lakon ‘goro-goro’ alias dagelan. Sungguh menarik sekali, karena ini bukan dagelan biasa. Pun dagelan ini pada pertunjukan Pentas Seni Tahun Baru 2012 kemarin telah berhasil mengocok perut para penonton.

Kerabat kerja Tim Operet PIK-R 'Taruna Ceria' dan Dagelan Cilik beserta Pembina PIK-Remaja, Ibu Harini, dalam acara Perayaan Natal 2012 di Balai Desa Sidoharjo Kecamatan Pati Jawa Tengah.

Bagaimana tidak. Jargon-jargon khas dagelan dan logat Setulan yang medhok, membuat geli siapa saja yang mendengarnya. Tidak hanya karena olah tubuh yang lucu, tapi para pelakunya pun masih sangat menggemaskan, atau dalam bahasa masa kini disebut ‘unyu-unyu’, sebab dagelan ini dilakonkan oleh anak-anak kecil. Benar-benar kreatif. Dengan mengaitkan isi lawakan mereka dengan keadaan sebenarnya, membuat lawakan ini berbobot. Misalnya saja ketika salah seorang berkata yang kurang lebih intinya demikian,

“Kene go, tak kandhani. Kowe ngerti, sak uwise Desa Sidoharjo dipimpin Pak Siwoyo, saiki dadi tambah maju. Ibu-ibu dadi sregep ngaji”

(Hei kemari, kuberitahu sesuatu. Tau gak sih, semenjak Desa Sidoharjo dipimpin oleh Bapak Siswoyo, sekarang jadi maju. Ibu-ibu jadi rajin mengaji.)

Kemudian ada yang menimpali,

“Sing ndi leh wonge?”

(Yang mana sih orangnya?)

Lalu teman-temannya menunjukkan dengan ekspresi lucu,

“Iku lhoo..

(Itu lhoo..)

Gerrr. Penonton tertawa lepas, sedangkan bapak yang ditunjuk tersenyum simpul.

Semakin terpingkal-pingkal penonton dibuatnya ketika dagelan cilik ini menampilkan punchline mereka,

“Heh, kuwe ngerti aku mau prodong-prodong mrene iki ono opo?”

(eh, kalian tau gak sih aku tadi ke sini buru-buru ada apa?)

“Lha ono opo e, kok malah takon?”

(Emangnya ada apa sih? Kok malah balik nanya?)

Balas temannya.

“Isin aku!!”

(Aku malu!!!)

Jawabnya dengan muka bersemu merah.

“Ngomong a..ono opo leh?”

(Bicaralah..ada apa sih?)

Sambut temannya penasaran.

“Iyo bener, pancen Deso kene tambah maju bareng dipimpin Pak Siswoyo.”

(memang benar Desa ini tambah maju setelah dipimpin Bapak Siswoyo.)

Menghela nafas.

“Ibu-ibu kabeh dadi sregep ngaji nek sore. Nganggo klambi puteh-puteh do mangkat ngaji. Nanging, ono siji sing gak tak senengi..”

(Semua ibu jadi rajin mengaji di sore hari. Memakai baju serba putih berarak untuk mengaji. Tapi, ada satu hal yang tidak aku sukai..)

Kalimat menggantung membuat temannya penasaran, kemudian bertanya.

“Lha opo?”

(Apa memangnya?)

Dengan menutup muka gadis cilik ini melanjutkan.

“Ibukku dewe!!! Ora gelem ngaji!!!”

(Ibuku sendiri!!! Enggak mau mengaji!!!)

Terdengar tawa riuh penonton, disambut teriakan teman dagelannya,

“Lha adekmu menthil ae!!!!”

(Habisnya, adikmu menyusu terus!!!)

Penonton semakin terpingkal-pingkal.

Kemudian berakhir. Tepukan riuh menggema menyambut punchline yang sempruna malam itu.

Oleh karenanya, sungguh suatu kehormatan bila kolaborasi dagelan cilik dan operet disatukan dalam satu jalan cerita. Apalagi acara berikut adalah suatu perayaan sakral bagi umat Kristen dan Katolik Desa Sidoharjo.

Maka, yang terjadi selanjutnya adalah cerminan ‘Tri Rukun Umat Beragama’. Melambungkan ingatan kita kembali ketika kerukunan menjadi topik pembicaraan penting tatkala memasuki zaman orde Baru. Pada waktu itu pemerintah mengazas tunggal Pancasila, dan dari sinilah kemudian melahirkan apa yang dinamakan,

Tri Rukun Umat Beragama:

1. rukun umat seagama,

2. rukun antar umat beragama dan

3. rukun antar umat beragama dan pemerintah.

Ditengah gempita media pemberitaan yang acakadut, justru di sinilah kemurnian akan penghormatan terhadap sesama mahluk Tuhan ditunjukkan. Di sebuah Desa Bernama Sidoharjo. Suatu event merefleksikan sifat asli warga Pati, yang hidup saling menghormati. Sekelumit kisah disini, sudah merepresentasi toleransi tanpa tedheng aling-aling. Toleransi yang benar-benar sifat asli Pati.

Malam itu, setelah petuah-petuah Natal disampaikan, dilanjutkan dengan penyalaan lilin dan doa bersama, acara seni tari dan operet segera menyusul di belakangya.

Lakon yang menampilkan alur cerita seram serasa dialihkan sesaat ketika lakon ‘goro-goro’ muncul.

Mengusung tema dagelan berbeda, kelima komedian cilik ini beraksi. Tengok saja ketika mereka berlatih menyanyikan lagu.

Salah satu dagelan berkata pada temannya,

“Iki aku tak nyanyi, engko saut yoo?”

(Ini aku akan menyanyi, nanti disahut yaa?)

“Oke!!” Jawab kedua rekannya.

Kemudian ia mulai menyanyi salah satu lagu Rhoma Irama.

“Dulu aku gila padamu, dulu aku memang gila…”

Kedua rekannya mengayunkan tangan di depan rekannya yang menyayi, seolah-olah hendak merengkuh sesuatu. Merasa heran, dagelan pertama kemudian protes,

“Lho?? Kuwe iku lahopo?? Tak kon nyaut kok malah meneng ae?? Malah jogetan karepe dewe??”

(Loh?? Kalian ini lagi ngapain?? Tadi kan aku suruh menyahut. Kok malah diam saja?? Malah seenaknya sendiri??)

Dengan polos kedua rekannya menjawab,

“Lhoo..jarenem mau kon nyaut?? Iku dak wes tak saut aaa???”

(Lohh..kamu bilang tadi suruh kita menyahut?? Itu tadi sudah kita sahut??)

Gerrr. Ketawa penonton pun pecah.

Demikinlah, kolaborasi operet dan dagelan cilik berhasil merebut decak kagum penonton. Hingga pertunjukkan berakhir, perhatian penonton selalu tertuju pada pertunjukkan ini. Diiringi dengan hujan rintik, pembauran warga dalam kesakralan acara bersinergi. Tanpa memandang tutup kepala, tanpa memandang kau siapa aku siapa. Sebuah komposisi apik, mengusung kekayaan budaya lokal yang bersumber dari warisan leluhur. Mengingat derasnya arus budaya luar yang menyesaki ruang hidup kita, setidaknya masih banyak yang mencinta budaya bangsa. Salah satunya dengan menampilkan operet berbahasa Jawa, generasi muda semakin bangga akan tanah yang dipijaknya, terutama Pati Bumi Mina Tani tercinta.

Ketika seluruh pengisi acara dan penonton kembali ke rumah masing-masing di malam itu, diharapkan kesadaran akan makna kebersamaan semakin terpatri di lubuk hati. Tentang makna hari besar sebagai alat pemersatu umat manusia. Hingga tercipta toleransi dan kerukunan antar umat beragama. Yang bila boleh saya melihatnya dari sudut sini, keduanya bagaikan dua sisi mata uang. Kerukunan berhubungan erat dengan toleransi; begitu pula sebaliknya. Keduanya menyangkut hubungan antar sesama manusia. Jika tri kerukunan (antar umat beragama, intern umat seagama, dan umat beragama dengan pemerintah) terbangun serta diaplikasikan pada hidup dan kehidupan sehari-hari, maka akan muncul toleransi antar umat beragama. Atau, jika toleransi antar umat beragama dapat terjalin dengan baik dan benar, maka akan menghasilkan masyarakat yang rukun satu sama lain. Begitulah hal yang dapat saya tangkap mengenai event yang diadakan di desa saya kali ini.

Dengan demikian, semoga damai akan tercipta di langit dan di bumi.

Beriring dengan selarik hyme ternama ‘Greater Doxology’ yang dalam bahasa Indonesia,

Kemuliaan bagi Tuhan di tempat yang Mahatinggi..

“Gloria in excelcis Deo.”

Advertisements