Dalam berhubungan antar mahluk -manusia, hewan, dan tumbuhan- dalam kehidupan, keharmonisan sudah selayaknya dijaga. Antar ketiganya memang sudah patut untuk membina persahabatan erat. Melompat ke tanggal 13 Januari 2012 hmpir tengah malam, pengalaman dengan binatang lainnya. Kembali dengan binatang dengan embel-embel ‘pohon’ di belakangnya.

Pengalaman yang berikut merupakan pembuktian bahwa mahkluk hidup yang bernama pohon mengitari manusia dengan bermacam gunanya. Mulai dari daun hingga akar. Tercatat ada ribuan jenis pohon di dunia. Katak merupakan binatang yang memanfaatkan pohon sebagai tempat hidupnya. Dekat dengan manusia. Hidup di sekitar kita, terutama bila hari hujan. Meramaikan malam dengan suaranya yang khas. Mengingatkan kita akan salah satu larik lagu:

Kodok ngorek, kodok ngorek

Ngorek pinggir kali,

Teot teblung, teot teblung,

Teot teot teblung

Mendengar lirik tersebut pastilah ingtan melayang pada lagu masa kanak-kanak. Binatang yang eksis di muka bumi sebagai inspirasi. Ia melanglang buana dalam di dunia dongeng dalam maupun luar negeri.

Pada suatu linimasa, dikisahkan seorang putri yang tidak sengaja mencium katak. Dan ‘wuzz’, katak berubah manjadi pangeran. Kisah ‘Pangeran Kodok’ ini begitu melegenda. Demikianlah istilah ‘katak’ dan ‘kodok’ seringkali dipertukarkan penggunaannya.

Lalu, bagaimana membedakan katak dengan kodok? Katak memiliki kulit halus dan kaki belakang yang panjang untuk melompat, dan biasanya mereka terdapat di daerah berair. Sedangkan kodok memiliki kulit kasar dan kaki belakang yang pendek, bisanya hidup di daerah kering.

Dengan demikian, bila melihat binatang serupa kodok, berkaki panjang dan suka menempel pada pohon, tempat-tempat basah, maka dialah katak.

Seperti kebanyakan hewan Amfibi lainnya, katak meninggalkan telurnya di air. Berudu atau kecebong yang kecil akan menetas dari telur tersebut dan bernafas di dalam air, layaknya ikan. Berudu ini lantas berkembang dan mengalami perubahan. Kaki mereka tumbuh dan bisa melompat ke daratan. Mereka mulai bernafas di udara. Ekornya lalu memendek, dan menghilang.

Dan sumber Wikipedia menyatakan bahwa dikarenakan bentuknya yang lucu dan dapat melompat-lompat, tidak pernah menggigit dan tidak membahayakan, maka anak-anak menyukainya. Utntuk pernyataan tersebut, saya tidak menyetujui setengahnya. Yang benar saja? Semasa kanak-kanak saya bahkan sudah tidak menyukai katak. Menyentuhpun tidak. Mungkin dalam gambar dengan bentuk yang imut, dalam bentuk boneka, saya suka melihatnya. Bahkan saya penggemar ‘keroppi’. Namun, bila dalam bentuk binatang dan masih hidup, masih bernafas, dan masih sehat? No way! Kemungkinan besar yang dimaksudkan oleh Wikipedia tersebut adalah kodok. Karena ia berkaki pendek yang artinya lompatannya tidak terlalu tinggi. Maka wajarlah bila anak kecil akan gemas melihatnya, pun lebih mudah dikejar bila kabur.

Satu kejadian terakhir pada pertengahan Januari lalu menjelang tengah malam.

Masih segar dalam ingatan saya kala itu. Dengan santai mengganti channel televisi sembari menyesap minuman hangat. Suasana hujan rintik di luar meramaikan malam dingin. Kesekian kali sudah saya ganti saluran televisi dan menemukan acara yang saya sukai. Terlarut dalam kesenangan dan terlupa akan suasana dingin akibat hujan. Hati merasa tenang karena pintu kos tertutup, meski tidak bisa sepenuhnya dikatakan begitu. Memang pintu tertutup, tapi kaca yang seharusnya menutup bagian berlubang pintu tersebut raib. Maka jadilah pintu yang tertutup tapi tidak berkaca.

Tanpa merasakan firasat apapun, malam itu suara keras menghantam lantai seperti karet licin basah yang sengaja dijatuhkan. Sontak menengok ke sumber suara, seekor katak berwarna cokelat dengan kaki-kaki panjang, melompat setinggi satu setengah meter di hadapan saya.

Segenap pancaindera dan batin saya sungguh tidak siap melihat atraksi yang satu ini. Tentu saja sangat tidak saya harapkan. Merusak suasana. Refleks saya berteriak kepada adik saya yang kala itu sedang di kamarnya. Sepersekian detik setelah saya membuka mulut, detik itu pula katak melompat masuk ke dalam kamar, berhadapan dengan adik saya yang masih melongo. Dan seperti gugup, ia melompat untuk kedua kalinya untuk kemudian nyungsep di belakang dispenser. Mungkin saja kebiasaan sehari-hari katak ini untuk bersembunyi di belakang dispenser, atau akibat kegugupan semata, binatang yang tiba-tiba muncul malam itu telah sukses mengantarkan saya pada ketakutan yang amat dalam dan beralasan.

Memori tiba-tiba teringat pada katak jenis ini yang suka menempel pada dinding porselen kamar mandi. Meskipun diam saja, tapi warna yang gelap seperti hendak menteror saya. Meskipun di dunia ini ada manusia pecinta katak, saya yakin, saya bukan salah satunya.

Informasi yang saya peroleh dari kawan saya, jenis ini disebut bencok. Konon punya cairan yang apabila mengenai mata, maka akan berbahaya. Terlepas dari benar atau tidaknya hal ini, apapun itu, info yang menakutkan serta negative lebih mudah terretas dalam otak. Apalagi pada saat genting seperti yg saya alami kala itu. Untuk coba membuktikan kebenaran tentang cairan katak ini pun saya tepis jauh. Boro-boro, melihat bentuknya yang masih hidup tersebut saja membuat bergidik. Ditambah kemampuan melompat setinggi satu setengah meter.

Kejadian tersebut bagi saya dan adik membuat kami ketakutan. Sontak saya dan adik mengetuk pintu teman kos adik saya yang kamarnya tepat berada di sebelah. Ketika ia mengetahui peristiwa barusan, kami ditampungnya untuk semalam. Sekedar numpang tidur di kamar sebelah.

Barulah keesokan harinya adik saya melaporkan hal ini kepada pemilik kos, yang kemudian membereskan katak tersebut.

Hal berikutnya yang terlintas dalam kepala saya adalah rasa penasaran. Ketertarikan pada spesies katak yang bertamu dan berkemampuan ala pendekar kungfu ini menuntun saya pada pencarian singkat dunia maya. Darinya lah saya tahu nama ilmiah katak ini adalah Polypedates leucomystax.

Klasifikasi Ilmiah Katak Pohon Bergaris (Polypedates leucomystax)

Kingdom Animalia

Phylum Chordata

Class Amphibia

Order Anura

Family Rhacophoridae – keluarga katak semak, katak lumut, katak pohon, katak terbang (shrub frogs, bush frogs, moss frogs, tree frogs, flying frogs)

Genus Polypedates – marga katak ‘whipping’ (whipping frogs)

Species Polypedates leucomystax

Katak jenis ini banyak memiliki nama umum, antara lain: Striped Tree Frog, Four-lined Tree Frog, Common Tree Frog, Banana Frog, Common SouthEast Asian tree frog, Java whipping frog (Inggris); létavka obecná (Republik Ceko); cehay, cekay (Sunda); perkak (Banyumas).

Sinonim ilmiah untuk nama katak ini antara lain: Hyla leucomystax Gravenhorst, 1829; Rhacophorus leucomystax (Gravenhorst, 1829); Polypedates rugosus Duméril & Bibron, 1841.

Sedikit menjelaskan klasifikasi ilmiah di atas, filum chordata adalah kelompok hewan. Terbagi menjadi dua macam, vertebrata dan invertebrate. Fase hidup katak bermetamorfosa dari berudu yang tampaknya seperti invertebrate, memiliki notokorda (embrio dengan tubuh seperti batang yang fleksibel), tali saraf dorsal berongga, pharyngeal slits (organ penyaring makanan), endostyle (alur memanjang di dinding pangkal tenggorokan menghasilkan lendir untuk mengumpulkan partikel makanan), dan ekor berotot yang melewati anus.

Katak pohon berukuran sedang, jari kaki depan dan belakang melebar dengan ujung rata, kulit kepala menyatu dengan tengkorak, jari kaki depan setengahnya berselaput. Tekstur kulit halus tanpa indikasi adanya bintil-bintil atau lipatan, bagian bawah berbintil halus. Warna coklat kekuningan satu warna atau dengan bintik hitam atau dengan empat atau enam garis yang jelas memanjang dari kepala sampai ventral, bagian bawah kuning dengan bintik-bintik coklat, dagu coklat tua. Uuran tubuh jantan 50 mm dan Betina 80 mm.

Sering ditemukan pada tumbuhan sekitar rawa, hutan sekunder, bahkan mendekati hunian manusia, Karena tertarik oleh serangga di sekeliling lampu, hidup dari dataran rendah sampai 1.400 mdpl. Persebaran hewan ini di dunia meliputi beberapa Negara: India, Cina Selatan, Indo-Cina, Indonesia. Di Indonesia sendiri persebarannya meliputi pulau Sumatera, Bangka, Jawa, Kalimantan, Sulawesi,Nusa Tenggara dan Irian Jaya (Mistar: 2003).

Nama yang tertera di belakang nama taksonomi merupakan nama orang yang pertama kali memberi deskripsi atau gambaran mengenai takson tersebut (deskriptor). Nama deskriptor ditulis dalam tanda kurung jika suatu spesies digolongkan dalam genus yang berbeda dari yang berlaku sekarang.

Sumber:

indonesiaindonesia.com/f/39090-perbedaan-reptil-amfibi-katak-kodok

jujujitu.blogspot.com/2011/05/polypedates-leucomystax-katak-pohon.html

Mistar & D.T. Iskandar. 2003: Panduan Lapangan Amfibi di Kawasan Ekosistem Leuser. The Gibbo Foundation, PILI-NGO Movement.

Wikipedia.com

Advertisements