Snake tree atau ular pohon termasuk ke dalam bangsa reptile bersisik atau squamata, memiliki sisik seperti kadal. Binatang ini tidak berkaki dan umumnya bertubuh panjang. Menurut Wikipedia, ular termasuk hewan yang dapat berkembang di seluruh belahan bumi. Dari yang beriklim tropis hingga di kutub. hidup di pohon, tanah dengan berbagai keadaan batuan dan cuaca, bahkan beberapa spesies ada yang hidupnya di dalam air (aquatic atau semi aquatic). Memangsa hewan yang ukuran tubuhnya lebih kecil darinya. Namun ular besar seperti sanca, dapat memangsa hewan-hewan besar, bahkan manusia.

Ular pohon ini hidup nya tentu saja di atas pohon atau disebut juga arboreal. Binatang ini memangsa burung, cecak, kadal dan makhluk pohon lainnya. Tergolong hewan nocturnal alias pencari makan pada malam hari, dan sering ditemukan di daerah pinggiran sawah atau ladang, hutan hujan tropis hingga ketinggan 2000 mdpl. Berreproduksi dengan ovovivipar atau mengerami telur didalam tubuhnya sehingga ketika keluar sudah berbentuk bayi ular.

Pertemuan saya dengan ular jenis ini pada 7 Desember 2011 sungguh singkat dan memacu adrenalin. Bagaimana tidak? Bayangkan saja, ketika engkau sedang menikmati perjalanan dengan sepeda motor tiba-tiba ada ular melongok hendak mencari angin segar.

Saya, yang bahkan seumur hidup ogah melihat apalagi menyentuh reptile jenis apa pun, dipaksa menimang seekor ular. Sontak jantung hendak meloncat keluar. Apalagi posisi saya pada cuaca hujan dikala itu mengendarai motor dengan mengenakan jas hujan. Hal yang terlintas adalah menarik tuas handrem dan menghentikan motor. Namun bahkan motorpun tampaknya ikut-ikutan panik saat mengetahui pemiliknya panik. Mana di jalan turunan. Akh, hampir hilang akal saya menghadapi hal ini.

Sementara saya menarik tuas hand rem serta menginjak rem kaki bersamaan, motor seperti melupakan tugasnya menghambat roda. Maka jadilah saya segera ancang-ancang lompat ke samping kiri. Untungnya motor melambat perlahan sehingga bisa saya geletakkan begitu saja kemudian lari. Badan saya menggigil. Entah karena air hujan saat itu, atau karena degub jantung yang berpacu. Saya merasa nyawa saya tercekat di tenggorokan. Lari sejauh-jauhnya.

Tapi untunglah dari arah berlawanan ada tiga orang pemuda yang berhenti melihat saya berdiri diantara hujan dan motor yang terserak di jalan. Mungkin mereka pikir saya terpeleset karena jalanan akibat hujan memang seringkali licin.

Salah satu pemuda bertanya apakah saya baik-baik saja. Sementara pemuda lainnya hendak membantu mengangkat motor saya, tiba-tiba berteriak ketakutan. Dia melihat ada ular di stang motor saya. Pemuda ini berteriak pada teman satunya lagi untuk segera mencari tongkat kayu yang panjang. Beruntung reflek pemuda ketiga baik. Ia segera menemukan ranting panjang, memberikan kepada pemuda kedua. Lalu pemuda ini menyingkirkan ular tersebut dari motor. Sementara saya yang menggigil di pinggir jalan hanya bisa berteriak kepada pemuda pertama “ada ular di motor!!”.

Utungnya roman muka saya tertutup slayer dan helm, jadi mereka tidak lihat betapa pasi bibir saya saat itu. Serta pupil mata yang melebar dan kosong. Serasa tubuh terguncang-guncang.

Hal yang dapat saya ingat mengenai hewan tersebut adalah kepalanya. Lancip kecil dan berwarna hijau. Disebabkan rasa penasaran, kemudian saya mencoba mencari tahu mengenai satwa yang saya temui ini. Semoga klasifikasi berikut benar. Hehe. Trying to be little bit scientific, sambil mengenang masa-masa sekolah dahulu.

Klasifikasi

Regnum : Animalia

Phylum : Chordata

Subphylum : Vertebrata

Classis : Reptilia

Ordo : Squamata

Subordo : Serpentes

Infraordo : Alethinophidia

Familia : Viperidae

Subfamilia : Crotalinae

Genus : Trimeresurus

Oke, sekian dulu ya dentifikasinya. Takut salah identifikasi. Hehe. Hanya mencoba mencocokan apa yang ada di memori saya karena pada waktu itupun saya hanya melihat sepersekian detik saja dia melata keluar dari lengan jas hujan melalui pergelangan kiri.

Hewan vertebrata ini rata-rata memiliki 100 tulang belakang. Beberapa ular besar bahkan memiliki 400 tulang belakang bahkan lebih. Memiliki lidah bercabang yang berguna sebagai indera penciuman. Lidahnya yang seringkali dikeluarkan akan mengumpulkan informasi cuaca dan jarak mangsa. Gigi pada ular seringkali berguna sebagai pengait agar mangsanya tidak terlepas. Oleh karenanya, kengerian bergelayut di pikiran saya saat menemuinya langsung dengan mata kepala sendiri.

Yang tidak akan saya lupakan adalah sensasi gesekan perut ular itu ketika menyentuh kulit basah saya. Hmmm…tidak bisa saya gambarkan. Antara rasa kaget, ngeri, dan tertohok. Jantung berdebar sekian ratus rpm kemudian seluruh badan saya merinding. Ketakutan yang muncul adalah apabila ular tersebut kaget dan mengira saya adalah musuhnya. Secara naluriah pastilah dia akan menyerang. Maka, sepersekian detik tersebut, saya berusaha tidak mengagetkannya. Pun ketika meletakkan begitu saja sepeda motor untuk saya tunggang langgang. Saya lakukan secara perlahan dan senatural mungkin. Orang lain pastilah akan tertawa mendengar cerita tersebut. Saya bisa maklum, karena joke mengenai peristiwa ini akan membuat phobi saya terkubur hidup-hidup, dan saya menyadarinya. Maka, cerita ini, yang aslinya adalah pengalaman hidup mati seorang Fleyora, akan jadi kisah manis, lucu, dan menggelikan untuk dikenang.

Advertisements